Title : Love Sick
Part : Blinded By Love
Total Words : 1.026
Genre : Angst, Romance, PG-15
Sejenak
mataku tertutup rapat seolah ingin menelusuri sekelebat memoriku bersamanya.
Park Hyungsik, nama itu masih terngiang di benakku. Masih ku ingat bagaimana
caranya membuatku tertawa. Membuatku selalu nyaman ketika berada di sisinya.
Ini gila, mencintainya adalah hal tergila yang pernah aku lakukan.
Konyol
jika aku menertawai diriku sendiri jika mengingat semua itu. Mengingat semua
hal yang pernah ku lakukan, termasuk menyakitinya. Aku tak bisa memaafkan
diriku sendiri karena kejadian itu. Memalukan, Jung Soojung.
“Yak Pabo, harusnya kau membalas ucapanku,”
rengekku kepada namja berparas imut itu.
“Berhentilah
merengek. Aish, baiklah. Bogosipeo, Jung Soojung. Puas?” ia
memanyunkan bibirnya, terlihat lucu.
“Poppo,” aku memajukan bibirku.
Hyungsik
pun mengecup bibirku kilat. Ia membawaku ke dalam pelukannya, hangat. Aku
selalu menikmati kehangatannya.
“Aku
harus belajar, kau tidurlah dulu. Aku pulang dulu ne,” ia mengacak rambutku.
Aku
menahan rasa kecewaku dengan tersenyum, “Jalga,
jangan lupa memikirkanku. Saranghae,”
ujarku.
“Annyeong,” ia berlari menuju ke mobilnya.
Mataku terbelalak kaget ketika I-Phoneku berbunyi. Tampak nama Chanyeol
menghiasi screen handphoneku.
“Eo,” sapaku singkat masih mengumpulkan nyawaku.
“5 menit lagi aku sampai.
Bersiap-siaplah,”ujar Chanyeol.
“Eum,” ku ayunkan langkah gontaiku menuju ke bawah-setelah mengambil
tas ku- untuk menunggu Chanyeol.
“Soojung-ah, cepatlah kita akan terlambat,” pekik Chanyeol.
Aku langsung berlari menuju ke
mobilnya, “Yak Park Chanyeol, jangan
memarahiku seperti itu,” ujarku kesal.
“Mian,” ia hanya menyengir layaknya bocah 5 tahun. “Kita akan ke
acara musik. Aku sudah memesankan tiket untuk kita,” lanjutnya.
“Baiklah Tuan Park,” sahutku lalu
memainkan hapeku.
Perkenalkan, namanya adalah Park
Chanyeol. Ia adalah orang yang sudah aku anggap sebagai sahabatku sendiri. Yah,
mantan pacarku. Aku tidak ingin orang-orang beranggapan bahwa mantan adalah
musuh. Hey, we lived in the world to find
friends and family not enemy.
“Soojung-ah, aku dengar Park Hyungsik akan masuk kuliah di Seoul International University. Kalau tidak
salah ia mengambil jurusan....,”
Aku memotong kalimat Chanyeol,
“Hukum,” ucapku singkat.
“Ya ya ya kau benar Soojung. Eommanya tadi menelfon ibuku untuk
mengajak keluarga besar Park untuk makan malam bersama. Apa kau mau ikut?”
Tanya Chanyeol sambil memarkirkan mobilnya.
Aku terkejut dan langsung menatap
Chanyeol, “Mwo? Ti...tidak
usah,”jawabku gugup lalu keluar dari mobilnya.
“Bukankah kau sangat
merindukannya?” Chanyeol berjalan di sampingku.
Aku terdiam sejenak,
“Cepatlah, sebentar lagi acaranya akan
dimulai,” elakku.
Acara musik jazz malam itu sangat menyenangkan. Kalimat Chanyeol kembali
terngiang. Haruskah aku ikut? Ah tidak-tidak, itu akan membuat suasana menjadi
canggung. Tapi aku merindukannya. Ah,
eotteokhae?
“Soojung-ah, besok temani aku ke super
market. Bahan makanan kita di kulkas sudah habis,” suara cempreng Sica eonni mengaburkan lamunanku.
“Ne,” sahutku sekenanya.
-You have one new
message-
Seketika jantungku berdegup
kencang. Ingin rasanya aku meloncat dari balkon kamarku. Tapi aku tidak segila
itu haha. Tak penat ku pandangi layar hapeku ini menunggu balasan darinya. Park
Hyungsik, aku sangat merindukanmu.
Percakapan yang cukup menyenangkan
membuat pagiku kini cerah seperti mentari yang mencairkan musim dingin di hari
natal. Seutas senyuman selalu terlukis di wajahku sepanjang hari ini.
“Kelihatannya kau senang sekali,”
Sica eonni mengambil belanjaannya.
“Hehehhe aniyo,” aku hanya terkekeh pelan.
“Oh iya, bukankah temanmu akan datang
ke rumah nanti sore?” Tanya Sica eonni.
“Ah ne, Sulli,” reflek tanganku memukul jidatku sendiri.
“Aish pabo, ayo cepat pulang. Kita siapkan makanan,” Sica eonni menggandengku.
“Hai Soojung,” Sulli pun duduk bersamaku di sofa.
“Ah bogosipeo,” ku
peluk sejenak sahabatku ini.
“Bagaimana kabarmu? Maaf aku baru sempat menemuimu,” ujar
Sulli.
“Baik. Dirimu? Aku dengar kau sedang sibuk dengan sekolah designmu,” jawabku.
“Ne, aku baru
pulang dari Prancis untuk observasi. Oh iya bagaimana kabar Hyungsik?” Tanya
Sulli.
“Eum....,” aku terdiam
sejenak, “Kami sudah putus sejak 8 bulan yang lalu,” aku tersenyum.
“Ah maaf aku tidak
tau. Kenapa kalian bisa putus?” Sulli menyeruput teh nya.
“Aku memutuskannya. Aku langsung berpacaran dengan Kris,
setelahnya,” aku menunduk.
“Mwo? Kenapa? Kau menghianatinya?”
Sulli terbelalak kaget.
“Hyungsik pernah memberitahuku, bahwa ia ingin melanjutkan
sekolahnya ke universitas Seoul. Dia sangat sibuk saat itu. Aku kasihan
dengannya yang harus membagi waktu belajar ekstranya untuk ujian dan membagi
waktu untuk gadis manja sepertiku. Apa aku salah?” hati seperti meringis ketika
air mataku tumpah.
Sulli memelukku, “Soojung-ah,
apa Hyungsik tau tentang ini?”
“Aku sudah memberitahunya, tetapi aku yakin dia tidak akan
percaya. Dia sudah mengenalku lebih dari diriku sendiri, Sulli-ah. Aku mencintainya Sulli-ah,” aku membalas pelukan Sulli.
“Lalu bagaimana dengannya? Apa dia masih mencintaimu?” Sulli
mengusap air mataku.
Aku menggeleng pelan sambil memainkan jariku dan menunduk, “Ia
sudah mencintai orang lain. Awalnya ia ingin menyatakan cintanya kepada gadis
itu. Namun, sahabatnya terlebih dulu melakukannya,”
“Soojung-ah, i’m sorry to hear that,” Sulli mengelus
rambutku.
“Jujur, aku sudah sering berpacaran setelah putus dengan
Hyungsik. Tapi belum ada seorang pun yang bisa membuatku mencintainya seperti
aku mencintai Hyungsik. Apa yang harus aku lakukan? If you say i must move on, its just easy to say not to do. I’m just can’t
control my mind and my heart to stop loving him,” ujarku.
“Soojung-ah, kau
cantik. Kau juga pintar. Namja mana
yang tidak menginginkanmu. Pasti di luar sana ada yang lebih baik darinya. Namun
Tuhan belum mengizinkan kalian untuk bertemu,” jawab Sulli.
“Lebih baik? Ya, mantan pacarku semua seperti itu. Tapi hati
kecilku berkata lain, Sulli-ah. Ini
bukan tentang kesempurnaan, tetapi tentang hati. Aku rasa kau pernah
mengalaminya saat kau bersama Minho,” jawabku.
“Difinitely i agree
with you. But, the situation is different. Minho oppa masih mencintaiku, tidak seperti
Hyungsik kepadamu. Setidaknya aku punya kesempatan, kan?” jawab Sulli.
“Tapi Hyungsik pernah memutuskan pacarnya demi diriku. Demi
membahagiakanku dan berjanji selalu berada di sisiku. Di mana janjinya dulu,”
tangisku pecah.
“Kau lah yang merusak janjinya, kau yang meninggalkannya kan,”
ujar Sulli sarkartis.
Aku terdiam. Apa yang dikatakan Sulli itu benar, tidak bisa
ku pungkiri bahwa aku lah yang paling bersalah disini. Lalu apa yang harus aku
lakukan? Berhenti mencintainya dan berhenti berharap? Oh God, 8 months without certainty
is the most painful things that i have been feeling. Must i wait him for a
thousand years then?
-Soojung POV END-
Next Chapter >>>>>>> Love Sick –
Breakeven

Tidak ada komentar:
Posting Komentar